SIBERKLIK.COM - Untuk menciptakan wajah Kota Bengkulu yang bersih dan bebas sampah, bukanlah perkara mudah. Namun tidak berarti hal itu sulit atau mustahil untuk diwujudkan. Tingal tergantung dari seberapa kesadaran masyarakat untuk berperan aktif dalam menjaga kebersihan. Setidaknya di lingkungan tempat mereka tinggal.
Hal inilh yang diungkapkan oleh Walikota Bengkulu Dedy Wahyudi. Dikatakannya, Pemkot Bengkulu memiliki komitmen yang besar dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan bebas sampah di Kota Bengkulu. "Saya bersama pak Wakil Walikota Ronny PL Tobing dan jajaran Pemkot akan terus fokus melakukan penanganan sampah untuk menjadikan Kota Bengkulu yang bersih dan indah," katanya.
Namun Dedy mengakui seberapa pun besarnya upaya yang dilakukan pemerintah dalam pengelolaan sampah ini tidak akan berhasil jika tidak ada dukungan dari masyarakat.
Diakui Dedy bahwa saat ini tingkat kesadaan masyarakat dalam menjaga kebersihan saat ini masih rendah. Masih banyak warga yang tak peduli dengan membuang sampah di sembarang tempat. Hal ini sangat mengganggu rencana pemerintah untuk menciptakan wajah kota yang indah dan bersih.
"Masalah pengelolaan sampah ini bukan hanya menjadi tanggungjawab pemerintah semata. Namun juga menjadi tanggungjawab bersama seluruh masyarakat Kota Bengkulu. Untuk itu perlu juga kesadaran dan peran serta aktif dari masyarakat dalam menjaga kebersiahan di lingkungan sekitar tempat tinggal mereka," jelasnya.
Lebih jaujh Dedy mengatakan di beberapa negara luar seperti Jepang dan Singapura, tingkat kesadaran masyarakatnya akan kebersihan lingkungan lebih baik dari kita (Indonesia). Budaya mereka untuk hidup bersih sangat tinggi. Hal ini bisa menjadi contoh yang baik bagi warga Bengkulu yang menginginkan kotanya bersih dan indah.
"Coba kita jalan-jalan ke negeri orang melihat kotanya yang begitu bersih. Singapura misalnya. Kota ini dikenal sebagai salah satu kota terbersih di dunia, dan sering disebut sebagai kota wisata terbersih.Karenanya soal sampah ini perlu kesadaran dari masyarakat, mulai dari rumah tangga dulu. Yakinlah ketika kesadaran itu tumbuh, rumahnya, lingkungan sekitarnya pasti akan bebas sampah," jelas Dedy.
Walkot Dedy mengajak seluruh masyarakat meningkatkan kesadarannya dan memanfaatkan peran LPM dalam mengelola sampah. "Kita sekarang sedang berperang melawan orang yang membuang sampah sembarangan. Nah, iuran sampah di LPM itu rata-rata 20 - 30 ribu. Misal 30, itu dibagi sebulan berarti sehari seribu, dibanding beli rokok itu sehari 35 ribu bisa, masa iuran sampah tidak mampu. Ini semua untuk kepentingan bersama, ketika kota ini bersih dan nyaman, ibu-bapak juga yang merasakannya," terang Dedy.
Terkait dengan iuran ini Dedy menjelaskan bahwa jika ada warga benar-benar tak mampu, pemerintah menyiapkan skema subsidi silang. "Nah untuk yang tidak mampu atau kategori miskin tidak usah dipungut iuran, kita gunakan subsidi silang," pungkas Dedy. (AK)