Manajemen Bank Bengkulu Dinilai Terlalu Mengandalkan Dana Pemda dan Cenderung Kalah Saing dengan Bank Lain

Prof. Kamaludin, SE, MM pengamat ekonomi Unib yang juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unib.

SIBERKLIK.COM - Penurunan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dialami Bank Bengkulu pada triwulan II tahun ini mendapat respon dari pengamat ekonomi Unib Prof. Kamaludin. Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unib ini menilai Bank Bengkulu masih sangat mengandalkan dana Pemda dalam pengembangan bisnis usahanya. 

"Manajemen Bank Bengkulu belum bisa keluar untuk bersaing secara pasar dengan bank-bank umum lainnya," terangnya.

Lemahnya daya saing Bank Bengkulu dan terlalu mengandalkan dana Pemda dalam pengembangan bisnisnya telah menjadi menjadi masalah klasik yang menimpa bank daerah ini.

bank bengkulu

Kamaludin mengaku dirinya sangat khwatir dengan kondisi yang dialami Bank Bengkulu saat ini. "Kalau tidak ada perubahan mendasar yang dilakukan OJK maka kondisi ini akan sangat mengkahwatirkan dalam jangka panjang," ungkapnya.

Kamaludin juga meminta agar para pemilik saham Bank Bengkulu haruslah profesional dan berpikir jangka panjang untuk kemajuan Bank Bengkulu.

Diakui Kamaludin masalah besar yang dihadapi bank daerah adalah adanya konflik kepentingan yang tinggi. Hal ini membuat Bank Bengkulu tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya. "Kondisi ini seperti benang kusut yang mana harus dibenahi dahulu," ujarnya. 

Guru besar manajemen Unib ini juga mengatakan bahwa hal yang sulit bagi Bank Bengkulu adalah pemegang sahamnya hanyalah seorang ex officio dan bukanlah pemilik (owner). Namun cederung measa sebagai pemilik.

"Kalau di bank swasta pemegang sahamnya adalah pemilik. Sedangkan di bank daerah pemilik sahamnya adalah ex officio yang cenderung memiliki kepentingan selama masa jabatan dan bukan untuk berpikir jangka panjang bagi pengembangan bank daerah. Apalagi sebagai pemilk saham ex officio mereka punya kuasa untuk menentukan
positioning di bank tersebut," tegasnya. (AK)