Beranda Ekonomi Miranda Sebut Utang Pemerintah Itu Instrumen, Bukan Jebakan Pembangunan

Miranda Sebut Utang Pemerintah Itu Instrumen, Bukan Jebakan Pembangunan

Miranda Sebut Utang Pemerintah Itu Instrumen, Bukan Jebakan Pembangunan
Mantan Deputy Senior Gubernur BI, Miranda S. Goeltom (berdiri) saat memberi kuliah umum di kampus Unihaz Bengkulu, Senin (11/3)

SIBERKLIK.COM – Utang luar negeri Indonesia yang mencapai Rp 5 ribu triliun memicu perdebatan di tengah masyarakat.

Banyak pengamat berujar utang itu sudah terlampau besar. Bahkan berpotensi sebagai jebakan dalam pembangunan.

Namun tidak sedikit yang berpendapat utang tersebut masih dalam tahapan aman. Bahkan mampu dikelola dengan baik.

Seperti yang diungkapkan oleh mantan Deputy Senior Gubernur BI, Miranda S. Goeltom.

Ia mengatakan utang yang dilakukan pemerintah menjadi instrumen dan bukan jebakan pembangunan.

Hal ini disampaikan Miranda saat memberi kuliah umum di Kampus Unihaz Bengkulu, Senin (11/3).

“Saya katakan disini bahwa utang itu adalah instrumen pembangunan dan bukan jebakan pembangunan,” tegasnya.

Dikatakan juga oleh Miranda bahwa di tahun politik saat ini banyak informasi yang salah diberikan ke masyarakat.

“Bahkan ada ekonom yang sama sekolah dengan saya di Boston, juga memberikan pemahaman yang keliru terkait utang ini,” ujarnya.

Jika ditanya risiko dari utang tersebut, Miranda mengatakan tentu ada. Namun risiko tersebut bisa dikelola sehingga potensinya menjadi kecil.

Diakui juga oleh Miranda bahwa tak ada negara di dunia ini yang tidak memiliki utang dalam meningkatkan pembangunannya.

“Sekelas negara kaya saja seperti Amerika dan Jepang masih berutang untuk pembiayaan pembangunannya. Bahkan utangnya lebih besar dari Indonesia,” jelasnya.

Utang Indonesia sendiri masih di bawah batas ketentuan yang ditetapkan dalam UU.

Bahkan Miranda menyebut banyak negara maupun lembaga pemberi utang yang percaya dengan kemampuan Indonesia dalam mengelola keuangannya. Termasuk kemampuan dalam membayar utang.

“Kalau Negara kita ini mau bangkrut atau tak mampu untuk membayar utang, tentu tak ada negara atau lembaga yang mau membeli surat utan negara atau obligasi,” bebernya. (AK)

Leave a Reply

avatar
254
  Subscribe  
Notify of