Beranda Ekonomi Bisnis Kaleidoskop 2018: Start Up Kelas Unicorn Indonesia

Kaleidoskop 2018: Start Up Kelas Unicorn Indonesia

Kaleidoskop 2018: Start Up Kelas Unicorn Indonesia
Kaleidoskop 2018: Start Up Kelas Unicorn Indonesia

SIBERKLIK.COM – Indonesia merupakan salah satu negara yang menjadi tempat tumbuh subur para perusahaan teknologi rintisan atau start up, membuat beberapa diantaranya bisa panen duit dari para investor.

Apalagi jika perusahaan tersebut berkategori “unicorn” atau dengan valuasi 1 miliar dollar AS. Ekonomi digital Indonesia diprediksi akan tumbuh empat kali lipat pada tahun 2025 yakni mencapai angka 100 miliar dollar AS.

Proyeksi tersebut disampaikan Google dalam laporannya bersama Temasek di Jakarta, Selasa (27/11/2018).

Dengan nilai sebesar itu pada 2025, ekonomi digital Indonesia disebut merupakan yang terbesar di Asia Tenggara. Menurut Managing Director Google Indonesia Randy Jusuf, pertumbuhan ekonomi digital Indonesia akan didorong oleh sektor e-commerce, ride hailing, dan online media.

“Dari sisi Indonesia, tiga tahun lagi yang paling besar adalah online travel, e-commerce, dan ride hailing seperti Go-Jek dan Grab,” papar Randy di kantor Google Indonesia, bilangan Sudirman, Jakarta. Sementara itu, dari 7 perusahaan unicorn di Asia Tenggara, saat ini 4 diantaranya berada di Indonesia. Perusahaan tersebut adalah Go-Jek, Traveloka, Tokopedia dan Bukalapak.

1. Go-Jek

Kaleidoskop 2018: Start Up Kelas Unicorn Indonesia
Kaleidoskop 2018: Start Up Kelas Unicorn Indonesia

Pada awal tahun 2018, tepatnya bulan Januari, Go-Jek dikabarkan mendapat suntikan dari Google. Meski tak disebut jumlah pastinya, tapi Google tak sendiri, perusahaan mesin pencari itu berbarengan dengan Meituan-Dianping (China) dan Temasek (Singapura).

Perusahaan e-commerce JD.com kemudian ikut serta, disusul para investor lain yang sebelumnya sudah menanam modal di Go-Jek, termasuk KKR, Warburg Pincus, Sequoia Capital, Northstar Group, DST Global, dan NSI Ventures.

Sebulan setelahnya, yakni Februari 2018, PT Astra International Tbk (ASII) menyuntik pendanaan ke Go-Jek sebesar 150 juta dollar AS. “Ini awal dari gabungan industri fisik dan virtual,” ujar Nadiem, Senin (12/2/2018).

Dia menyebutkan, ada banyak area bisnis yang dapat dieksplor oleh Go-Jek bersama ASII untuk menyediakan layanan yang lebih baik baik untuk driver maupun konsumen.

Mengaspalnya Go-Jek di tiga negara Asia Tenggara yakni Vietnam, Thailand dan Singapura juga jadi pertanda bahwa Go-Jek investasi besar-besaran ingin kuasai pasar ASEAN.

2. Tokopedia

Kaleidoskop 2018: Start Up Kelas Unicorn Indonesia
Kaleidoskop 2018: Start Up Kelas Unicorn Indonesia

Perusahaan teknologi e-commerce yang didirikan Willian Tanuwijaya hingga Selasa (25/12/2018) dikutip dari Cruchbase telah mengumpulkan 9 kali pendanaan semenjak 6 Februari 2009.

Di mana putaran pendanaan terakhir yang dilakukan oleh Tokopedia yakni seri G senilai 1,1 miliar dollar AS dari Alibaba dan SoftBank. Pendanaan ini masuk dalam program Vision Fund kedua raksasa teknologi tersebut.

Tokopedia menyatakan telah merambah 93 persen wilayah Indonesia. Meski tidak menyajikan data pasti, namun Tokopedia menyatakan penjualannya telah naik empat kali lipat.

Di sisi konsumen, Tokopedia juga tengah mengembangkan layanan dan produk keuangan. CEO Tokopedia William Tanuwijaya mengatakan pihaknya tak memiliki rencana untuk berekspansi ke luar Indonesia.

“Kami tidak memiliki rencana untuk berekspansi ke luar Indonesia saat ini. Kami akan menaikkan pangsa pasar kami di Indonesia hingga dua kali lipat untuk menjangkau seluruh wilayah di Indonesia kami tercinta,” sebut William melalui surel.

Hingga saat ini, pendanaan terbesar yang berhasil diraih oleh Tokpedia yakni series F dan G yang masing-masing menggelontorkan 1,1 miliar dollar AS kepada e-commerce yang identik dengan warna hijaunya ini.

3. Bukalapak

Kaleidoskop 2018: Start Up Kelas Unicorn Indonesia
Kaleidoskop 2018: Start Up Kelas Unicorn Indonesia

Sepertinya, Bukalapak adalah start up unicorn yang tidak terlalu gencar mencari pendanaan di tahun 2018. Dikutip dari situs Cruchbase, Bukalapak terakhir kali mendapat putaran pendanaan Series C pada 17 November 2018 dengan nilai yang tidak disebutkan.

Putaran pendanaan yang dilakukan tahun lalu tersebut pun tidak dijelaskan siapa investornya. Yang pasti, dalam Cruchbase, hingga saat ini Bukalapak baru lima kali mendapat putaran pendanaan.

Salah satunya dari EMTEK Group tahun 2015 silam. Mengacu pada laporan keuangan EMTEK Group per kuartal III tahun 2018, Kepemilikan KMK yang merupakan anak usaha EMTEK Group di Bukalapak adalah 2.670.490 lembar saham atau 36,86 persen kepemilikan.

September 2018 lalu, Presiden Bukalapak Fajrin Rasyid menyatakan masih terus menganalisis segala kemungkinan untuk bisa melakukan penawaran umum perdana atau IPO di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Hal itu tak terlepas dari prestasi Bukalapak yang berhasil menembus transaksi atau gross merchandise value (GMV) sebesar Rp 4 triliun per bulan. Berkaitan dengan hal tersebut, Fajrin menjelaskan bahwa pihaknya bakal memikirkan segala dampak yang mungkin terjadi jika Bukalapak memutuskan untuk IPO.

“Kita thinking, jadi kita enggak bilang bahwa oke kita mau IPO tapi kita sedang menganalisis dampaknya itu. Paling cepat sih kayaknya tahun depan (analisisnya),” ujar Fajrin di Kantor Bukalapak, Kamis (27/9/2018).

4. Traveloka

Kaleidoskop 2018: Start Up Kelas Unicorn Indonesia
Kaleidoskop 2018: Start Up Kelas Unicorn Indonesia

Tak beda jauh dengan Bukalapak, Traveloka sedikit mengerem putaran pendanaan kepada perusahaannya di tahun 2018 ini. Dilansir dari Cruchbase, Traveloka tercatat mengumpulkan 500 juta dollar AS dari 4 kali putaran pendanaan semenjak 12 November 2012.

Putaran pendanaan terakhir yang dilakukan oleh Traveloka yakni pada 27 Juli 2017 dengan investor Expedia sebesar 350 juta dollar AS. Pada bulan Oktober 2018, Traveloka sempat dikabarkan mengincar pendanaan sebesar 400 juta dollar AS.

Pendanaan tersebut diperoleh dari investor baru maupun eksisting. Dikutip dari Bloomberg, Jumat (5/10/2018), kabar tersebut dihembuskan oleh sumber yang tak disebutkan identitasnya.

Traveloka yang didirikan pada tahun 2012 dan menjadi salah satu startup Indonesia yang berekspansi ke Asia Tenggara. Saat ini Traveloka beroperasi di Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, Singapura, dan Vietnam.

Pasar perjalanan online Asia Tenggara diprediksi naik tiga kali lipat dari 26,6 miliar dollar AS pada tahun 2017 menjadi 76,6 miliar dollar AS pada tahun 2025, menurut laporan Google-Temasek.

Bulan November 2018, Traveloka dihebohkan lewat kabar mundurnya salah satu pendiri sekaligus Chief Technology Officer (CTO) Traveloka Derianto Kusuma. Derianto turut memberi kontribusi besar dalam mendirikan Traveloka bersama sang CEO Ferry Unardi pada 2012 lalu.

Menurut Ferry, Derianto adalah sosok penting di balik teknologi dan organisasi Traveloka yang solid. Lewat keterangan resmi, Ferry menuturkan bahwa keputusan untuk mundur diambil oleh Derianto setelah mempertimbangkan selama beberapa bulan.

Ia pun mengatakan proses pengunduran diri Derianto ini sudah didiskusikan bersama para investor. Belum lama ini, Traveloka dikabarkan telah mengakuisisi tiga agen perjalanan online (OTA) dengan nilai 66,8 juta dollar AS.

Ketiganya yaitu Pegipegi Indonesia, Mytour Vietnam, dan Travelbook Filipina. Sebelum akuisisi, ketiga perusahaan tersebut merupakan anak perusahaan dari perusahaan Jepang, Recruit Holdings. (rl)

Leave a Reply

avatar
254
  Subscribe  
Notify of