Pelaku UMKM Binaan BI Bengkulu 'Ditantang' Naik Kelas

Parman saat mengoperasikan mesin kemasan sachet gula aren semut untuk pasar ekspor.

SIBERKLIK.COM - Kantor Perwakilan Bank Indonesia Bengkulu terus mendorong sejumlah pelaku UMKM binaannya untuk naik kelas. Mereka tak hanya 'ditantang' untuk bersaing di pasar domestik tapii juga berorientasi ekspor.

Hal ini diungkapkan oleh Deputi Pemimpin BI Bengkulu, Dhita Aditya Nugroho saat meninjau usaha gula aren semut Sari Aren di Kabupaten Rejang Lebong, Senin (192). "Saat ini kita ingin mendorong para pelaku UMKM dibawah binaan BI untuk naik kelas yang berorientasi pada pasar ekspor," ungkapnya.

"BI akan terus memberikan bantuan-bantuan teknis kepada para pelaku UMKM binaan agar mampu untuk meningkatkan usahanya yang nantinya akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi di daerah," lanjutya menjelaskan.

Diakui Adit bahwa produk-produk yang dihasilkan oleh pelaku UMKM binaan BI memiliki kualitas yang bagus. Bahkan sudah banyak diminati oleh konsumen dari luar negeri. Hanya saja karena masih terkendala pada hal administratif dan pemenuhan kuota, untuk semetara produk yang dijual ke luar negeri menggunakan jasa aggregator.

"Ke depan kita akan bantu dan perkuat para pelaku UMKM binaan ini agar bisa melakukan ekspor produk mereka sendiri secara mandiri," tegasnya. 

Terkait dengan 'tantangan' UMKM naik kelas ini, pemilik usaha Sari Aren, Suparman mengaku siap untuk mewujudkan tantangan tersebut. Bahkan ia optimis jika produk gula aren semut yang diproduksinya mampu menembus pasar luar negeri.

"Saat ikut pameran di luar negeri yang difasilitasi BI Bengkulu, ada tawaran dari salah satu hotel di Malaysia untuk gula aren semut bentuk saschet. Mereka mengakui kualitas dari produk kita dan Ini bisa menjadi peluang," terang Parman sapaan akrabnya.

Sebagai pelaku UMKM binaan BI Bengkulu, Parman mengaku mengalami peningkatan omset usaha. Dari sebelumnya hanya puluhan juta, kini telah mencapai angka ratusan juta.

Parman mengaku sangat berterimakasih kepada BI Bengkulu yang telah membantu dan membina usahanya dan kelompok taninya. Bantuan yang dilakukan BI kepada kelompoknya tak hanya dari produksi semata. Namun juga mulai dari hulu yakni petani aren agar bisa meningkatkan hasil olahan.

"Kualitas produk gula semut aren yang kami produksi tak hanya tergantung dari proses produksinya, tapi bahan baku juga sangat mempengaruhi. Makanya kami senang BI memberi pembinaan mulai dari hulu sampai ke hilir. Bahkan ada sirkulanya dimana kami juga diberi pelatihan untuk mengolah limbah produksi gula semut aren menjadi pupuk organik untuk tanaman yang bisa memberi nilai tambah," beber Parman.

Saat ini terang Parman terjadi peningkatan kelompok tani aren di bawah binaan BI. Awalnya hanya 15 kelompok, sekarang menjadi 60 kelompok. "Peningkatan ini tentu memberi pasokan bahan baku yang lebih banyak bagi kami untuk bisa memenuhi pasar ekspor," ujarnya.

Menyambut 'tantangan' naik kelas, Parman bersama 60 kelompok taninya mengaku siap untuk terus meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan. Sedangkan untuk penguatan koorporasi, Parman mengaku pihaknya terus meningkatkan legalitas usahnya. Mulai dari legalitas, BPOM hingga penjelasan produk. (AK)